Welcome to My Blog
Ekspesikan dirimu melalui tulisan
Mulai dengan sebuah kata

Rabu, 09 November 2011

LAPORAN


Dalam laporan yang ditulisnya hanya menyampaikan hal – hal yang esensil, hal – hal pokok yang bertalian dengan tugasnya, sehingga orang yang menerima laporan itu segera mengetahui masalahnya, dan dapat segera mengambil langkah – langkah yang diperlukan.

Laporan merupakan suatu jenis dokumen yang sangat bervariasi bentuknya dan sebab itu sukar diberi suatu batasan pengertian yang jelas. Variasinya mulai dari suatu bentuk laporan yang sederhana berbentuk angka – angka sebagai suatu gambaran mengenai perkembangan suatu persoalan, sampai kepada laporan yang terdiri dari beberap jilid buku yang masing – masing terdiri dari ratusan halaman. Ada yang berbentuk isian formulir – formulir yang standar, ada yang berbentuk surat, ada pula yang berbentuk buku.

Namun, sebagai pegangan mengenai pengertian laporan, dapat dikatakan bahwa laporan adalah suatu cara komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Karena laporan yang dimaksud sering mengambil bentuk tertulis, maka dapat pula dikatakan bahwa laporan merupakan suatu macam dokumen yang menyampaikan informasi mengenai sebuah masalah yang telah atau tengah diselidiki, dalam bentuk fakta – fakta yang diarahkan kepada pemikiran dan tindakan yang akan diambil.


Dasar – Dasar Laporan
a.     Pemberi laporan
b.     Penerima laporan
c.     Tujuan laporan


Sifat Laporan
Sebuah laporan akan dianggap baik atau buruk tergantung dari keberhasilannya dalam memenuhi fungsinya yaitu mempengaruhi pembaca seperti yang diharapkan.
Sifat – sifat laporan, sbb:
a.     Laporan yang baik harus ditulis dalam bahasa yang baik dan jelas. Bahasa yang baik dan jelas itu dapat menimbulkan pengertian yang tepat, bukan kesan atau sugesti.
b.   Isi laporan harus diurutkan dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat masuk akal.
c.    Laporan harus mengandung imaginasi.
d.   Laporan yang dibuat harus sempurna dan komplit, yang berarti tidak boleh ada hal – hal yang diabaikan bila hal – hal itu diperlukan untuk memperkuat kesimpulan dalam laporan itu.
e.     Laporan harus disajikan secara menarik.


Macam – Macam Laporan
Laporan umum dibuat untuk kepentingan dunia usaha dan kepentingan pendidikan.
Di bawah ini pembagian laporan menurut bentuk dan maksudnya,sbb:
a.     Laporan berbentuk formulir isian
b.     Laporan berbentuk surat
c.     Laporan berbentuk memorandum
d.     Laporan perkembangan dan laporan keadaan
e.     Laporan berkala
f.       Laporan laboratoris
g.     Laporan formal dan semi-formal


Struktur Laporan Formal
Laporan harus disampaikan dalam bentuk dan struktur yang baik. Struktur laporan meliputi beberapa unsur, unsur – unsur tersebut dapat disusun menurut kedua variasi berikut:
                      A                                                                          B
Halaman judul                                              Halaman judul
Surat penyerahan                                      Surat penyerahan
Daftar isi                                                        Daftar isi       
Ikhtisar atau Abstrak                                Ikhtisar atau Abstrak
Pendahuluan                                                Kesimpulan
Isi laporan                                                     Saran (Rekomendasi)
Kesimpulan                                                   Pendahuluan
Saran (Rekomendasi)                               Isi laporan
Apendiks                                                        Apendiks
Bibliografi                                                       Bibliografi

Pendahuluan dan Isi Laporan dapat mendahului Kesimpulan dan Saran. Bentuk kedua dibuat dengan pertimbangan bahwa yang paling penting bagi penerima laporan adalah Kesimpulan dan Saran. Pendahuluan dan Isi Laporan hanya mempunyai fungsi umum yaitu sebagai bahan ilustrasi dan bahan penjelasan.
Catatan: apendiks dan Bibliografi masuk ke dalam Bagian Pelengkap.


Bahasa Sebuah Laporan
Bahasa yang dipergunakan dalam sebuah laporan formal haruslah bahasa yang baik, jelas dan teratur. 

Bidang yang dilaporkan dan orang yang menerima laporan itu seringkali mempengaruhi pula gaya bahasa yang digunakan. Gaya bahasa yang dipakai harus bersifat objektif, impersonal, dan tidak boleh memihak.
Pemakaian kata yang tepat untuk gagasan yang akan disampaikan merupakan unsur yang penting dalam gaya bahasa. Laporan harus dapat dipahami dengan mudah.

Penggunaan kata ganti orang pertama dan kedua harus dihindari, kecuali penggunaan kata “kami” bila yang menyampaikan laporan adalah suatu badan atau satuan tertentu.


Laporan Buku
Laporan buku merupakan suatu macam laporan untuk kepentingan pendidikan atau perkuliahan di perguruan Tinggi.
Laporan ini berbeda dari laporan – laporan lain karena ia tidak diperlukan oleh penerima laporan. Karena itu cukup bila terdiri dari bagian – bagian berikut:
  • Judul 
  • Pendahuluan (mencakup syarat Penyerahan dan Pendahuluan) 
  • Isi Laporan 
  • Kesimpulan dan Saran.
            

Penutup
Bila laporan – laporan umum memperoleh bahan laporannya dari observasi, penelitian dan sebagainya, maka laporan buku memperoleh bahannya dari sebuah buku yang telah dibaca.

Pendeknya apa saja yang menjadi pokok sebuah laporan, entah bidang pendidikan, perdagangan, industri, diplomasi, teknik, ilmu pengetahuan, semuanya harus disusun secara logis dan jelas. Pada bagian akhir selallu disertai penilaina tentang baik-buruknya, serta saran – saran untuk mengambil tindakan bila perlu.

Baik laporan umum maupun laporan buku sebenarnya mempunyai titik singgung dengan ringkasan. Keduanya merupakan penyajian suatu pengetahuan yang lebih luas mengenai suatu hal, tetapi dibuat secara lebih singkat untuk maksud tertentu. Keduanya mempunyai perbedaan dengan ringkasan, yaitu ringkasan tidak mengndung pendahuluan dan kesimpulan.







Sumber : Keraf,Gorys.1994.Komposisi.NTT:Penerbit Nusa Indah.

USUL


Pengertian Usul
Usul atau proposal adalah suatu saran atau permintaan kepada seseorang atau suatu badan untuk mengerjakan atau melakukan suatu pekerjaan. Dapat pula terjadi bahwa usul atau proposal itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk dikerjakan oleh orang atau badan yang mengajukan usul tersebut, tetapi dengan maksud agar orang atau badan yang menerima usul itu dapat melakukan apa yang diharapkan dalam proposal tersebut.

Sifat dan Jenis Usul
Macam – macam bidang yang dewasa ini bisa dijadikan sasaran usul yang bersifat bisnis adalah: penelitian, pengembangan, perencanaan dan pemasaran.
Usul dapat dibedakan berdasarkan bentuknya, yaitu usul formal, usul semi formal, dan non-formal.

Usul Non-formal
Usul – usul yang bersifat non-formal bentuknya beraneka ragam, tergantung dari penulis atau kesepakatan antara penulis dan penerima usul. Kadang – kadang usul non-formal disampaikan juga dalam bentuk memorandum atau surat. Hal – hal yang harus ada dalam usul non-formal
-      Masalah : harus dirumuskan dengan jelas.
-      Saran pemecahan : merupakan inti dan sasaran utama dari setiap usul.
-      Permohonan : penulis menyampaikan permohonan untuk melaksanakan pekerjaan yang khusus itu atau bersedia menyampaikan informasi yang diperlukan untuk keluar dari masalah yang dihadapi itu. Ia harus merumuskan dengan tegas apa yang ingin dikerjakan.
Karena membuat sebuah usul formal sering memerlukan biaya yang tidak sedikit, maka sering pula disampaikan terlebih dahulu sebuah usul non-formal. Bila usul non-formal sudah diterima atau menarik perhatian penerima usul, baru dirundingkan untuk menyampaikan lagi suatu usul formal.

Usul Formal
Usul formal adalah usul yang memenuhi persyaratan bentuk tertentu. Sekurang – kurangnya harus memenuhi 3 persyaratan, yaitu:
-      Bagian Pelengkap Pendahuluan
Beberapa bagian yang mutlak perlu dimasukkan dalam bagian pelengkap pendahuluan ialah surat pengantara atau memorandum pengantar, halaman judul, ikhtisar atau abstrak, daftar isi, dan penegasan permintaan.
-      Isi Usul
Isi usul memuat rincian yang terperinci dari pekerjaan atau tugas yang akan dilakukan. Masalah – masalah yang akan dikerjakan itu berbeda – beda sifatnya, di samping itu situasinya pun tidak sama bahkan pada pekerjaan – pekerjaan yang dianggap sejenis. Namun demikian beberapa topik yang selalu akan dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam isi sebuah usul, antara lain:
Pembatasan Masalah, Latar Belakang, Luas-Lingkup, Metodologi, Fasilitas, Personalia, Keuntungan dan Kerugian, Lama Waktu, Biaya, Laporan.
-      Bagian Pelengkap Penutup
Bagian ini sama dengan laporan dan tulisan formal lain, berisi bahan kepustakaan, lampiran – lampiran gambar, tabel, dan sebagainya yang dipergunakan dalam usul itu.







Sumber : Keraf,Gorys.1994.Komposisi.NTT:Penerbit Nusa Indah.

Senin, 07 November 2011

Mari Jadikan Membaca Sebagai Budaya


Di Indonesia, membaca belum bisa dikatakan sebagai budaya. Karena masih banyak di antara kita yang enggan meluangkan waktu untuk membaca. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya siswa di kantin – kantin daripada perpustakaan atau banyaknya pengunjung pusat perbelanjaan daripada toko buku. Dari situ kita tahu kalau masyarakat belum sadar akan pentingnya membaca.
 
“Ilmu seorang akan terlihat dari berapa banyak buku yang mereka baca”. Pernyataan tersebut tentu tidak salah, mengingat banyak manfaat yang didapat dari membaca. Seperti banyak ilmu dan pengetahuan yang akan didapat dari membaca, menambah kecakapan seorang dalam berbicara (memperbanyak kosa kata), membuat seorang lebih bijakasana, menghabiskan waktu luang dengan lebih bermanfaat, dan masih banyak hal – hal positif lain ketika kita mau menjadikan membaca sebagai budaya. 

Dari uraian di atas jelaslah manfaat membaca begitu banyak. Dan tidaklah rugi orang yang punya kebiasaan membaca. Jadi, bagaimana mungkin masih ada keraguan di hati kita untuk menjadikan membaca sebagai budaya, apalagi jika ada diantara kita yang masih tetap bermalas – malasan untuk membaca. Padahal membaca jelas – jelas mendatangkan banyak manfaat.

Cermati Dampak Iklan di Televisi


Televisi merupakan salah satu media komunikasi yang efektif, karena televisi ditonton oleh semua lapisan masyarakat. Bukan hanya itu, televisi juga ditonton oleh semua tingkatan umur, mulai dari anak – anak, remaja, sampai orang dewasa. Selain itu, televisi merupakan media komunikasi yang sangat menarik, karena merupakan media komunikasi audio visual. Maka dari itu, tidak heran jika banyak produsen yang mempromosikan produknya melalui media televisi, hal ini sering kita sebut iklan.
 
Iklan yang ada di televisi bukan hanya iklan akan produk atau barang saja, tetapi juga iklan dalam bentuk jasa. Iklan dalam bentuk produk tentu kita semua pasti tahu, seperti makanan / minuman, alat elektronik, pulsa, barang keperluan sehari – hari, dll. Iklan jasa pun pasti kita tahu, seperti iklan asuransi dan perbankan. Selain itu sifat iklan bukan hanya bersifat komersial tetapi juga sosial (seperti iklan layanan masyarakat).

Iklan yang sering kita tonton di televisi tentu memberikan keuntungan bagi produsen karena bisa mempromosikan produknya. Tetapi tidak hanya produsen, konsumen pun bisa mendapatkan keuntungan dari adanya iklan ini. Sebagai konsumen dengan adanya iklan, kita bisa mengetahui produk – produk terbaru, bisa membandingkan produk yang satu dengan produk yang lain, dan memilih produk yang sesuai dengan kita. 

Tetapi sayangnya, iklan juga akan memberikan dampak negatif kepada konsumen, Dengan adanya iklan konsumen akan lebih konsumtif. Tentu saja, konsumen banyak yang terjebak dengan iklan yang ada di televisi. Bagaimana tidak??? Jika kita lihat, iklan yang ada di televisi dikemas dengan sedemikian rupa, dibuat dengan semenarik mungkin. Bahkan iklan memang kadang melebihkan keadaan yang sebenarnya. Dengan begitu, konsumen pasti akan mencoba – coba produk tertentu hanya karena iklan yang dilihat di televisi begitu menarik. Seperti contohnya kaum wanita yang banyak terjebak produk kecantikan tertentu, hanya karena iklan yang ada di televisi. Iklan seperti inilah yang akan merugikan konsumen.

Mesin Fotokopi Ramah Lingkungan


Mesin Fotokopi
Akhir – akhir ini para penghuni bumi mulai berpikiran tentang kelangsungan planet ini. Banyak gerakan yang bermunculan untuk menyelamatkan bumi. Gerakan ini menyadarkan kita agar lebih mencintai bumi yang kita tinggali sekarang ini. Salah satu cara yang efektif adalah dengan membuat dan membeli produk – produk yang ramah lingkungan.


Salah satu produknya adalah mesin fotokopi yang ramah lingkungan. Cara kerja mesin fotokopi ini bisa lebih menghemat penggunaan kertas. Sekarang ini penggunaan mesin fotokopi sangat marak dalam dunia pendidikan dan perkantoran. Sungguh sangat tidak ramah lingkungan. Tetapi jika banyak yang menggunakan mesin fotokopi yang ramah lingkungan, hal ini tentu akan berdampak baik untuk lingkungan (bumi kita tercinta). Tentu kita semua berharap inovasi mesin fotokopi yang ramah lingkungan akan terus dilakukan sehingga bisa berdampak baik untuk bumi ini. 




Sumber Gambar: http://platform.ak.fbcdn.net/www/app_full_proxy.php?app=183319479511&v=1&size=z&cksum=f3230e40408d26a72c8b5da06a92a0ec&src=http%3A%2F%2Fwww.ciputraentrepreneurship.com%2Fimages%2Fstories%2Ftoshiba_copier.jpg

Berwirausaha Harus Menjadi Pilihan


Di zaman sekarang mencari pekerjaan begitu sulit,hal ini karena jumlah lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan pencari kerja. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan angka pengangguran yang tinggi. Banyak orang berlomba – lomba mencari pekerjaan dan hanya sedikit orang yang bercita – cita serta berani mewujudkan cita – citanya untuk membuka lapangan kerja.



Salah satu cara membuat lapangan pekerjaan adalah dengan menjadi seorang wirausaha. Tetapi sayangnya banyak diantara kita yang enggan untuk berwirausaha dan lebih memilih menjadi pegawai / karyawan. Ini terlihat dari angka wirausaha yang masih di bawah 2% dari penduduk Indonesia. Seharusnya jika ingin masyarakat Indonesia sejahtera, angka wirausaha harus mencapai 5% atau bahkan lebih.

Sebenarnya jika yang diinginkan kesejahteraan, tentu menjadi pegawai / karyawan bukan merupakan pilihan. Karena pegawai / karyawan mempunyai waktu luang yang sedikit, bahkan ketika pensiun, tunjangan pensiun yang didapat tidak sama seperti ketika masih bekerja, hal ini sangat berbeda dengan berwirausaha. 

Tentu memutuskan untuk berwirausaha bukan merupakan pilihan yang mudah, banyak pertanyaan atau pernyataan yang muncul di pikiran kita, seperti “bisa nggak ya? Atau saya tidak berbakat”. Banyak yang berpikiran kalau berwirausaha merupakan bakat, tapi mereka salah karena siapapun bisa berwirausaha. Modal utama untuk berwirausaha adalah motivasi dan kemauan yang kuat. Selain itu jika ingin berwirausaha jangan hanya dipikirkan tapi harus dilakukan (do it now). 







Sumber Gambar: http://nugliztajulie.files.wordpress.com/2010/06/entrepreneurship2.jpg